Have You?

Quote

Have you ever been in this kind of situation when you feel like giving up but you just can’t because there is no turning back, no exit, nobody else to rely on? Have you ever felt like crying because you’re simply confused and you don’t know what to do but somehow the tears refuses to fall? Have you ever felt like getting panicked because you’d suddenly realized that you were never sure of what you actually wanted, what you actually aimed for, what you had been fighting for. As time goes by so fast and people keep changing, you know that you gotta keep running toward your final destination but hell, you just don’t know where your final destination is. Have you?

Indie

Quote

Independent (adj)

(1) : not requiring or relying on something else (2) : not looking to others for one’s opinions or for guidance in conduct

Saya baru menyadarinya akhir-akhir ini.

Indie bukan tentang berusaha menjadi unik, menjadi berbeda, bertolak belakang dengan mainstream, dan berusaha untuk tidak pasaran. Mendengarkan musik Irlandia tidak membuat Anda menjadi seorang yang independen. Mengenakan baju dari clothing line lokal tidak membuat Anda menjadi seorang yang unik. Menonton film dengan plot aneh berbudget rendah tidak menunjukkan keunikan apapun. Pun, menjadi berbeda dari orang lain, dalam case apapun, tidak serta merta membuat Anda berjiwa independen.

Bagi saya menjadi independen adalah menjadi diri sendiri. Melakukan sesuatu karena kita punya reasoning yang kuat bukan karena dipaksakan. Indie tidak selalu bertentangan dengan arus, membenci keseragaman, dan memandang rendah mereka yang berkomunitas.

Satu nilai yang seseorang tanamkan pada saya: “We do things based on reasoning. Do not ever do something just because others do so. Keep asking why until you find the core reason of doing what you’re doing.” Seorang independen adalah seorang yang mengetahui “the why”.

Bahkan ketika Anda mengenakan tas Longchamp tiruan seharga seratus lima puluh ribu, cardigan ZARA sejuta umat, mendengarkan musik yang diputar di stasiun tv, dan merupakan seorang pencinta berat Harry Potter, tak masalah jika Anda memiliki alasan untuk melakukannya. You wear that cardigan because it matches your style.

Independen ada di dalam diri kita. Dan orang lain tak perlu tahu. Bergaya unik bukan untuk dipaksakan. Bukan untuk mendapatkan pengakuan orang. Tak perlu juga beramah-tamah dengan orang lain jika itu tidak sesuai dengan kepribadian kita. Untuk apa memaksakan diri hanya demi sejumput penghormatan orang lain? Ah, dalam kasus ini berarti independensi kepribadian.

Melihat kata ‘independen’ dalam sudut pandang baru ini membawa saya ke dalam cakupan perspektif yang lebih luas. Dengan memahami bahwa setiap insan memiliki caranya sendiri dalam menghadapi sesuatu membuat saya tidak lagi judgemental. Siapa saya berhak menilai orang? Setiap orang punya cara dan taste yang berbeda. Dan setiap orang berhak mempresentasikan dirinya ke masyarakat dengan bentuk apapun. Menghakimi orang berarti mengingkari independensi itu sendiri- dan tidakkah sungguh menyedihkan kita jika hidup di dalam masyarakat yang begitu skeptis?

Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang  tegak di puncak bukit

Jadilah saja belukan

Tapi belukan terbaik yang tumbuh di tepi  danau

Kalau kau tak sanggup menjadi belukan

Jadilah saja rumput

Tapi rumput yang memperkuat tanggul  pinggiran jalan

Tidak semua jadi kapten

Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan  tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu  sendiri

(Soe Hok Gie)

P.S. Maaf, saya tahu tulisan saya sungguh tidak terstruktur dan melompat-lompat. Tulisan kali ini lebih mirip sebuah racauan tengah malam yang tidak jelas. Suatu saat mungkin akan saya edit, ganti sana-sini. Intinya, terima kasih telah membaca post saya.

Realitas

re·a·li·tas /réalitas/ n kenyataan (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

 

Saya yakin setiap orang punya konsep realitas yang berbeda. Tergantung perspektif dan cara berpikir. Bagi saya, setiap orang punya zona realitas yang berbeda. Realitas bagi Anda mungkin hanya sebatas pada apa yang Anda lihat dan Anda dengar, sebatas pada apa yang Anda dapat dirasa panca indera. Atau mungkin tidak demikian.

Menyenangkan sekali bertemu dengan berbagai macam orang dan mengamati bagaimana dia melihat segala sesuatu. Skeptis, apatis, optimis, sebenarnya relatif tergantung zona realitas Anda dibandingkan dengan zona realitas orang lain. Dan menarik melihat bagaimana melihat kita semua bertengkar meributkan perbedaan pandangan, tidak mau keluar dari zona nyaman dengan mencoba menerima realitas orang lain. Salah? Tidak. Menyedihkan? Iya.

Filosofi hadir dengan segudang pertanyaan tak terjawab tentang realitas. Kenapa kita ada? Benarkah kita hanya sendirian? Apakah terdapat dimensi lain di luar sana, atau justru disini, di hadapan kita, namun tidak terlihat? Analogi menggambarkan bahwa konsep realitas setiap orang sungguh terbatas terhadap  input fisik yang dia rasakan. Mulai dari alegori gua Plato, bahkan Dr. Seuss dalam fabelnya Horton Hears a Who! secara implisit menerangkan bahwa setiap orang sulit untuk percaya dan menerima sesuatu yang baru, entah itu karena ajaran turun-temurun, jebakan aktivitas sehari-hari, dan doktrin-doktrin lain seperti pelajaran di sekolah, misalnya.

Omong-omong tentang sekolah, ini adalah tempat yang tepat untuk membentuk konsep realitas seseorang. Tidakkah ketika kecil dulu kita sering mempertanyakan banyak hal? Waktu kecil dulu, saya selalu mempertanyakan hal macam “benarkah surga ada, dan apakah surga itu berupa lembah pasir luas yang ketika aku meminta rumah barbie kepada Tuhan, maka rumah barbie akan jatuh dari langit?” atau “apa yang sedang diobrolkan para semut ketika ramai-ramai menggotong jenazah kecoa, dan bagaimana cara pembagian jatah daging kecoa untuk setiap semut?” Namun seiring waktu akibat sistem pendidikan yang mendewakan pendekatan sains berbasis rasio, maka saya tidak lagi tertarik dengan hal-hal semacam itu. Atau mungkin, melupakan detail kehidupan. Realitas bagi saya dan Anda kini hanya sesuatu yang dapat diamati lewat mikroskop, dihitung massanya dan harus dikalikan dengan gaya grafitasi untuk didapatkan beratnya. Maka kini setiap ada opini personal setiap orang akan berteriak, “Mana buktinya?”. Semakin tua kita semakin terjebak dalam perspektif yang lebih sempit; lebih banyak berdebat, melupakan detail, dan lebih sedikit bermimpi. Membosankan, bukan?

Lalu ada agama dan pemahaman metafisika. Yah, saya tak akan bahas tentang agama karena sensitif (pengecut? terserah.). Tapi mengerti kan? Keduanya dianggap berlawanan dengan sains. Agama dianggap merupakan pelarian bagi mereka yang tidak lelah mencari jawaban. Ini bukan pandangan saya ya. Pandangan saya tak penting bagi Anda. Hanya saja, membuat James B. Valentine jatuh cinta pada saya hingga dia masuk Islam dan kami menikah masuk ke dalam zona realitas saya. Tak masuk akal? Terserah Anda.

Saran saya: tutup mata Anda. Jangan selalu membuka mata, warna-warni dunia memang indah dan sayang dilewatkan namun ada lagi yang lebih penting: jiwa. Menengoklah ke dalam hakikat diri sekali-sekali. Sayang sekali jika kita tidak bisa meresapi hidup hanya karena terlalu yakin pada konsep realitas yang sudah terpetakan oleh lingkungan sekitar. Atau, saran yang lebih ekstrem: cobalah bertapa. Ya, saya juga belum melakukannya.

Sekian.

You Only Get One Shot at Life

In life, you only get one shot for everything.

Kita selalu hanya punya satu kesempatan untuk segalanya. Hanya punya satu kesempatan untuk belajar sungguh-sungguh dan meraih IPK 3,8. Hanya punya satu kesempatan untuk memberitahu orang yang kita cintai betapa berharganya dia. Hanya satu kali kesempatan untuk menikmati kemacetan yang menyebabkan kita terlambat ke kampus. Hanya satu kali kesempatan untuk tersenyum menyapa orang asing yang kita temui. Hanya sekali kesempatan untuk benar-benar merealisasikan tekad berpuasa Senin-Kamis. Hanya sekali kesempatan untuk bertanya kepada dosen di kelas. Hanya sekali kesempatan untuk berterimakasih kepada orang yang menolong kita.

Hanya satu kali kesempatan untuk memaafkan.

Karena, seyogyanya, tidak ada momen yang sama persis. Dan, momen yang tepat, hanya terjadi sekelebat. Karena, hidup sepenuhnya bukan berarti hidup yang terpenuhi sepenuhnya. Bahwa naik dan jatuh dan merangkak dan tergelincir dan melompat adalah dinamika. Dan revolusi sungguh retoris: pergantian?

Karena tanpa sadar setahun, dua tahun, tiga puluh tahun. Maka sebelum ambisi-ambisi pudar, tren berubah dan semuanya menjadi sephia… mari. Karena hidup cuma sekali, kita tak akan pernah sama lagi.

Dan waktu tidak berdetak ke kiri.