Feeds:
Tulisan
Komentar

Shooo You 2009

So Happy New Year All.

Sedikit mereview, tahun lalu aku bikin postingan ini di blog lama. Disana ditulis kalo untuk 2009 aku gak pasang target apa-apa… Just go with the flow katanya, hahaha. Dan ternyata! Bagi aku pribadi 2009 BANYAK kesannya. Di awal tahun udah seru, pertengahan, sampe akhir tahun. Banyak perkembangan, ada juga penurunan (apalagi nilai, hahaha).

Gejolak emosinya juga komplit, mulai dari seneng, hati yang berflower-flower, sedih, kesel, sakit hati, komplit deh. Emang deh usia 17  tahun ini… Ckckckck (sok-sok). :>

2010 is going to be soooooo hectic I guess. Ada UN, trus seleksi masuk universitas, which means akan belajar mati-matian mengejar mimpi. Readers doain ya? Hehe. Kalo udah masuk, bakalan kuliah dan ninggalin Duri :( AAAAAAAAAAAA GAK MAU! Dan yang gak kerasa sama sekali itu masa sekolah kurang dari  3 bulan lagi. Dammit.

Dan karena itulah, aku gak pernah suka Tahun Baru. Aku benci momen-momen pergantian; berpisah dengan masa lalu dan menyambut masa depan. Sama kayak… naik kelas, ulang tahun, Lebaran (soalnya Ramadhan berakhir), kelulusan, dan lain-lain.

Soal resolusi, udah ada sih… Tapi takut kalo ditulis ntar heboh taunya nggak kesampean :D Yang pasti untuk 2010 intinya cuma satu: I just wanna live my life to the fullest. My life is going to be adventurous, so I will love it.

I will smile through everything.

I learn to give.

I will be a woman, who is beautiful by forgiving.

And I also be tougher than ever.

Eh itu banyak ya? Hahahaha… Sooooo readers, apa resolusi tahun barunya? Ayo dishare!

p.s. Bye memorable 2009, gonna miss irreplaceable you.

Dan ketika aku bersamamu

Aku merasa seperti berada di rumah

Baunya, udaranya, sentuhannya

Sangat nyaman

Menghangatkan hati.

Hari Terakhir

Aku benci ini tapi aku harus.

Situasi yang menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi karena sebenarnya aku sendiri yang memilih situasi ini, bukan orang lain. Semacam terpaksa, begitu.

Jadi, mulai bulan Januari nanti, sudah diputuskan kalau aku akan berhenti les piano.

Alasannya jamak, karena aku harus fokus belajar untuk UAN dan universitas. Les piano sebenarnya tidak menganggu jadwal, tapi kalau karena belajar itu aku jadi gak punya waktu lagi untuk latihan dan gak  bisa fokus… buat apa les? Terus terang, itu pertimbanganku pribadi.

Bukan seperti yang kalian pikirkan. Berhenti les sebenarnya hal yang sepele. Dan berhenti les piano bukan berarti aku berhenti main piano. Aku tetap main piano di rumah. Cuma, aku sudah 9 tahun les piano dan kalo tiba-tiba dihentikan…. rasanya jadi sedikit shocked, haha.

Kebiasaan membunuh.

Begitu terbiasa dengan sesuatu, kalau tiba-tiba ada yang hilang langsung terasa hampa kan? Lebih dari itu, perpisahan dengan Bina Musika ini (hahaha) sedikit banyak membuat aku me-recall ingatan. Cukup banyak. Agak sentimentil ya? Itulah aku.

Dan yang paling buruk dari semuanya adalah… ini mengingatkanku pada hal yang paling aku benci: waktu cepat sekali berlalu. Tiba-tiba saja aku akan pergi dari Duri (Amin), tau-tau aja udah bukan waktunya lagi untuk les piano. Tau-tau aja semuanya akan segera jadi kenangan: taksi di sore hari, lorong bina musika, udaranya yang pengap, ruang piano di ujung gang, motor kak Yeni, komputer administrasi, WCnya yang berdebu…

Satu lagi yang mungkin akan sangat aku rindukan adalah jalan kaki sore-sore sepulangnya dari Bina Musika. Merenung sepanjang perjalanan. Mendengarkan musik. Berpapasan dengan teman.

Time flies, eh? Maaf agak menyampah. Besok hari terakhir les piano. Harus dinikmati sebanyak-banyaknya.

Quotes of The Week

Daripada gue stress mikirin lo ampe nangis, mending gue karaoke dangdut lewat youtube -Shiva Vinneza

Sometimes something is meant to be happened. -Aditya Noor

Kalau mau sukses, hidup harus nekat. Think out of the box! -My Mother

(Instead of being pretty) I prefer to be unique. -Fitri Tropica

Which one is your favorite? ;)

Mempercayai seseorang mungkin sama halnya dengan log in di sebuah website. Ketika kamu memasukkan email dan password, kemudian menyetujui untuk log in… Maka pada layar akan muncul pilihan: Percayakan password kepada komputer ini?

Apa yang akan kamu pilih? Ya? Tidak?

Kalau aku boleh saran – ya, kalau kamu mau mendengarkanku, tidak usah percayakan passwordmu pada siapapun. Termasuk kepada benda elektronik. Oh, bukan, apalagi pada benda elektronik. Bisa saja seseorang nanti menyalahgunakannya, kan? Orang lain itu bisa siapa saja. Bisa saja adikmu. Bisa saja ibumu. Atau, orang yang menggunakan komputer setelahmu di warnet ujung gang itu.

Jangan terlalu percaya pada apapun. Jangan percaya sepenuhnya pada siapapun. Kau tidak tahu kan? Hanya hitungan detik passwordmu bisa terbongkar. Kalau sudah begitu, maka mudah saja untuk mengotak-atik accountmu, merusak profilemu, membaca inboxmu. Berbahaya sekali, bisa-bisa rencana konspirasi dengan seorang teman bisa ketahuan. Bisa saja idemu dicuri. Bisa saja, bisa-bisa saja siapa orang yang kau sukai tersebar luas di kalangan teman-teman. Jadi kacau kan? Jangan percayai orang seratus persen.

Kau bisa jadikan aku sebagai contoh. Setiap menulis komentar di blog orang lain dan aku menggunakan accountku (sebab pada beberapa blog diharuskan untuk punya account blog juga, untuk memberi komentar). Maka setelah itu akan muncul pilihan: Trust this site with your identity? Maka dengan takzim aku menjawab : Yes, just this time.

Percayai seseorang dalam waktu-waktu tertentu saja. Saat rahasia yang kau simpan sudah basi, misalnya. Atau saat dia juga membagi rahasianya denganmu. Atau, saat kau tidak mampu lagi menahan rasa. Atau waktu-waktu lain yang masuk akal.

Jangan percaya 100% persen pada seseorang. Kau tidak pernah tahu kebenarannya kan? Lantas apa faedahnya bagimu memberikan kepercayaanmu–kepercayaanmu yang mahal itu– dan menyerahkan logikamu begitu saja? Berikan porsi 30% saja kepercayaanmu. Atau, bolehlah 40% kalau orang itu begitu spesial. Tidak sampai setengah dari total kepercayaan yang kau miliki. Sisakan untuk yang lain.

Akan lebih baik jika kau tak mempercayai orang lain. Hei, maksudnya bukan bersikap sinis dan skeptis terhadap keberadaan orang lain. Bukan berarti kau menjadi anti-sosial atau bertahan dalam kesepian seperti Leshaya yang membenci semua orang karena mereka tidak menghargai cita-citanya untuk bernyanyi, bukan seperti itu. Hanya saja kau tidak perlu membeberkan semua hal yang terjadi pada mereka kan? Cukuplah dipendam. Cukuplah untuk konsumsimu saja. Kecuali, seperti kataku tadi, pada waktu-waktu tertentu.

Karena ketika terbuka, rahasia tidak lagi berharga.

Dan kau, yang menyimpannya, tidak lagi istimewa.

Pendam saja. Karena jika suatu ketika passwordmu tersebar luas, accountmu kacau, fotomu dibajak, profilemu hancur dan image mu rusak,

semuanya akan lebih sulit untuk diperbaiki.

Tulisan Sebelumnya »